Longing The Lord With Attitude

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 24 Mei 2020 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Bagaimana sikap kita menantikan kedatangan-Nya? Tetaplah berkumpul di sekitar korban Kristus, seperti burung rajawali berkumpul di sekitar bangkai. Di situlah kita diingatkan karena kematian-Nya, saya punya kehidupan. Karena Pribadi itu menjadi Pribadi yang terkutuk oleh Allah, saya menerima berkat. Karena Pribadi itu dijadikan berdosa, saya dibenarkan. Karena Dia menjadi miskin, supaya di dalam kemiskinan-Nya saya menjadi kaya.

Ketika Nuh sedang menantikan semua yang Allah sampaikan kepadanya, Nuh membangun bahtera selama 100 tahun (sejak umur 500 tahun-Kejadian 5, ketika Nuh masuk dalam bahtera umurnya 600 tahun-Kejadian 6). Untuk menggenapi janji Allah, perlu sebuah sikap tetap bersemangat, tetap bekerja, taat, tetap lakukan dengan setia, dan Nuh menerima hikmat dari Allah. Di dalam bahtera pun harus punya sikap yang baik untuk ijinkan janji Allah terjadi. Allah tidak beritahukan berapa lama mereka—Nuh, istri, anak-anak, dan menantunya beserta dengan ribuan binatang yang dikumpulkan Allah—berada di dalam bahtera.

Ketaatan Adalah Kunci Mengalami Janji Tuhan

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 17 Mei 2020 Oleh Pdt. Toni Aris Santoso

Mazmur 119:57-60, “Inilah yang kuperoleh, bahwa aku memegang titah-titah-Mu. Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu. Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu. Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu. Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu.

Apa yang menjadi bagian dalam hidup kita? Ada orang yang menjadikan harta sebagai bagian hidup, sehingga mengejar harta. Ada yang menjadikan pendidikan sebagai bagian dari hidupnya, belajar terus-menerus, mengejar gelar. Tidak ada yang salah. Tetapi Daud mengatakan "bagianku ialah Tuhan". Daud menjadikan perkenanan Tuhan sebagai bagian yang sempurna dalam hidupnya, melalui berpegang pada janji dan firman Tuhan.

Berpegang bukan hanya sekedar percaya. Daud membuktikan bahwa ia tidak sekedar mencintai Tuhan. Ia mengambil sikap ketaatan. Harta dan kepandaian hanya bersifat sementara. Tetapi saat mengejar Tuhan sebagai bagian dalam hidup kita, hasilnya tidak sia-sia.
Bagaimana bukti dari ketaatan?

Stuck on You

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 3 Mei 2020 – Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Hari-hari ini apa yang lebih melekat dalam hidup kita? Berapa banyak kali semua peristiwa, semua yang kita lihat di dalam dunia itu yang lebih melekat.

1 Petrus 1:23 - Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal [Being born again, not of corruptible seed, but of incorruptible, by the word of God, which liveth and abideth for ever – KJV].

Kita sebetulnya sudah dilahirkan kembali waktu kita percaya Yesus sebagai Juruselamat, dari benih yang tidak bisa dikorup (incorruptible), tidak bisa digoncangkan. Kalau kita sadar, kita diselamatkan karena percaya kepada Firman (benih yang tidak bisa tergoncangkan), kenapa sering kali yang lebih melekat adalah perkara yang bisa tergoncangkan? Kenapa tidak ijinkan yang tak tergoncangkan menjaga hati kita? Apa yang lebih melekat dalam hidup kita? Yang corruptible atau yang incorruptible? Semua yang ada di dalam dunia itu bisa tergoncangkan dan tidak kekal.

Apa yang harus lebih melekat pada kita?

Hidup Dipimpin Damai Sejahtera Allah

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 10 Mei 2020 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

2 Tesalonika 3:16 - Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.

Yohanes 14:27 - Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Ketika Yesus berkata “damai sejahtera” kepada murid-murid-Nya menggunakan bahasa Aramaic “shalom”, damai sejahtera-Nya itu terus-menerus (konstan) dan di dalam segala hal—tidak hanya sekadar elemen hati. Damai sejahtera seperti apa yang Allah inginkan kita terima?

Selamat Bukan Binasa

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 26 April 2020 Oleh  Pdm. Iwan Artiyanto

2 Petrus 3:9-15, situasi hari-hari ini seperti gambaran sebuah ruangan di malam hari, gelap karena lampu mati. Mata kita tidak bisa melihat apapun di sekitar kita. Seringkali kita menjadi takut. Bagaimana respon kita terhadap situasi ini?

Ibrani 11:27, Musa mengambil keputusan dalam perjalanan hidupnya, ia harus keluar dari istana tanpa mementingkan kedudukan dan hidup yang nyaman. Dalam keputusannya, ia harus menghadapi murka raja. Bagaimana ia bisa bertahan? Ibrani 11:27 [FAYH],Karena iman kepada Allah, ia meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Musa berjalan terus, seakan-akan ia melihat Allah menyertai dia.” Berjalan terus dan percaya Allah berjalan beserta kita.

Allah seperti apa yang menyertai kita?