Menjadi Manusia Baru
Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 15 Oktober 2017 Oleh Pdt. Andrew M. Assa
Ketika kita percaya Yesus, ilustrasinya seperti naik pesawat dibawa ke ketinggian di atas 9 kilometer dari permukaan laut. Semakin tinggi semakin tipis lapisan oksigennya dan ketinggian ini mematikan, tapi mereka yang berada di dalam pesawat tetap terpelihara bahkan bisa bergerak dengan kecepatan 900 kilometer per jam.
Dalam kasih karunia Allah, kita akan menjadi piala Anugrah Allah yang memuliakan Tuhan, kita menjadi manusia baru ketika percaya pada Yesus. Tuhan menerima kita apa adanya tapi Ia terlalu sayang untuk membiarkan kita apa adanya.
Efesus 4:17-32 adalah perikop yang berbicara tentang manusia baru.
Manusia lama punya kecenderungan dosa dan tujuan akhirnya adalah kebinasaan, tapi saat kita percaya Yesus dan meresponi firman-Nya, roh kita diperbaharui (dimulai dari dalam), kita menjadi manusia baru. Yesus ingin perbaiki kita dari dalam keluar.
Dipulihkan Oleh Tangan Sang Ahli
Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 1 Oktober 2017 Oleh Pdt. Andrew M. Assa
Yesaya 64:6 - Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.
Tidak ada seorang manusiapun yang bisa membanggakan kesalehannya karena kesalehan manusia seperti kain cemar (kain menstruasi). Kita ini piala anugrah Allah, dibentuk untuk sesuatu yang mulia. Secara genetis kita mewarisi gen orangtua kita, tetapi dalam Kristus Yesus kita mewarisi gen anak Allah, karena itu bertindaklah sebagai anak-anak Allah.
Yohanes 1:17. Kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Kata "datang" ditulis dengan ginomai = be married, menikah. Jadi kasih karunia dan kebenaran itu merupakan sebuah kesatuan di dalam Yesus Kristus. Kasih karunia Allah menerima kita apa adanya tetapi Allah terlalu sayang untuk membiarkan kita apa adanya, Dia sedang menuntun kita di dalam kebenaran.
Datang Pada Terang Sejati
Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 8 Oktober 2017 - Oleh Pdt. Andrew M. Assa
Piala bukanlah benda biasa, piala adalah benda kehormatan, sebuah penghargaan yang luar biasa. Gelas yang dipakai oleh keluarga kerajaan disebut piala, jadi piala adalah benda mulia. Setiap kita berharga di mata Tuhan karena kita adalah Piala Kemurahan Allah. Ketika kita sadar bahwa kita adalah Piala Anugrah Allah, piala akan ditaruh di tempat khusus, tempat yang terhormat. Ketika kita ada di tangan Sang Ahli, kadang kala memang ada bagian tubuh yang sepertinya dipenggal, namun ketika Tuhan memenggal, Tuhan justru ingin memberikan jauh lebih baik.
Yohanes 8:12 - Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
Ketika kita mengikut Yesus jangan takut, masa depan kita bukan masa depan yang suram. Kita mungkin tidak tahu yang terjadi di depan, namun Yesus adalah terang sejati. Ketika kita ikuti langkah-langkah Tuhan, situasinya boleh gelap tapi kita mempunyai terang hidup.
Masih Ada Tuhan Masih Ada Jawaban
Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 24 September 2017 Oleh Pdt. Andrew M. Assa
Kata kuncinya adalah anugrah, hidup kita ini sebetulnya ada anugrah Allah yang tersedia. Mungkin kita berpikir dalam keadaan seperti sekarang ini saya tidak mungkin memenuhi janji Allah. Pola pikir ini seringkali iblis masukkan sehingga kita lebih setuju dengan perkataan iblis daripada perkataan Tuhan. Seringkali iblis bermain di pikiran kita supaya kebesaran Tuhan tidak terjadi dalam hidup kita Ketika kita deklarasikan firman Allah, firman Allah memenuhi segala sesuatu. Amsal 18:21.
1 Timotius 4:1,2 - [4:1] Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan [4:2] oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka [a hot iron - KJV].
Ajaran setan-setan bukan hanya bicara tentang ajaran sesat tapi iblis suka sekali menipu orang percaya, kesadaran mereka seperti dicap dengan besi panas. Iblis seringkali ingatkan dosa kita, merasa tertuduh dengan kesalahan dan kegagalan, iblis cap pola pikir kita bahwa sekalipun dosamu sudah diampuni tetapi engkau seorang pendosa, belum sempurna. Seringkali manusia lebih sadar terhadap cap itu daripada penebusan yang Allah lakukan.

