Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 16 November 2025 Oleh Pdp. Peterus Rediwan S.
1 Petrus 2:11-17 - [2:11] Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. [2:12] Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. [2:13] Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, [2:14] maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. [2:15] Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. [2:16] Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. [2:17] Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!
Kehidupan orang percaya digambarkan sebagai perantau atau pendatang. Ketika kita ada di satu daerah baru ada perasaan asing. Kehidupan sebagai pendatang/perantau itu sebagai minoritas. Alkitab ajarkan kita itu pendatang di tengah dunia ini. Karena kewarganegaraan kita, identitas kita adalah warga negara sorga. Maka kehidupan kita dikelilingi oleh orang-orang tidak percaya kepada Tuhan. Juga seringkali dikelilingi orang-orang fasik--tahu firman tapi mereka tidak mengakui kebenaran firman tersebut, mengingkari kekuatan firman dan tidak pernah merasa bersalah. Kehidupan di tengah-tengah orang tidak percaya dan orang fasik seringkali membuat tekanan dalam hidup kita. Bisa karena tindakan mereka, karena kita orang percaya kita dikucilkan, difitnah, itu kita alami--fakta kehidupan. Seringkali mendapatkan perlakuan yang berbeda di lingkungan sekolah, kerja, keluarga, komunitas gereja. Lingkungan-lingkungan seperti ini akan membuat tekanan--toxic, auranya negatif. Apa yang jadi respon kita? Kadang kita ingin membalas. Mungkin respons apatis--terserah. Apakah sikap-sikap seperti ini yang dikehendaki Tuhan ketika kita ada dalam lingkungan dimana kita menjadi perantau atau pendatang? Sikap apa yang Tuhan inginkan ketika kita dalam lingkungan seperti ini?
1. Ayat 17. Hormatilah semua orang.
Meskipun ada banyak orang yang mungkin memusuhi kita, membuat hidup tidak nyaman, tetaplah hormati semua orang. Jauhi orang fasik artinya jangan ikut cara hidup mereka, tapi jangan naif--kalau tahu orang itu bermasalah, tetap hormati tapi menjaga jarak.
2. Ayat 16. Hiduplah menjadi orang-orang yang merdeka.
Merdeka bukan berarti hidup seenaknya sendiri. Kita sudah dimerdekakan oleh korban Kristus. Kita punya kebebasan kapanpun datang kepada Allah. Saya memang orang bebas tapi saya memilih untuk hidup jadi hamba kebenaran. Bukan menyalahgunakan kemerdekaan seenak sendiri.
3. Ayat 13-14. Tunduk pada otoritas.
Tunduk pada otoritas pemerintah, aparat, hukum-hukum negara, lingkungan kerja maupun gereja. Penundukan pada otoritas mengajar tentang kerendahan hati.
4. Ayat 12. Milikilah cara hidup yang baik.
Cara hidup yang baik adalah jangan kehilangan imanmu kepada Tuhan di lingkungan manapun saat ini kita ada. Tetap bawa nilai Kristus. Tetaplah berbuat baik. Berbuat baik adalah bukan hanya sebatas menolong, memberi tapi kita mungkin ada di lingkungan yang tidak baik, tetap lakukan yang terbaik, berkarya dengan baik, tetap kerjakan yang Tuhan percayakan dalam hidup kita dengan sebaik-baiknya.
Kenapa Allah ingin kita lakukan yang demikian? Alasannya:
1. Ayat 12. Tuhan punya hati melawat mereka.
Kadang mereka ingin menjatuhkan Kristus lewat hidup kita ketika kita merespons negatif (tidak baik). Ada satu masa Tuhan datang menjumpai mereka lewat hidup kita. Kalau kita balas perbuatan mereka dengan yang tidak baik, apakah memuliakan nama Tuhan? Tidak! Ketika kita bisa memiliki cara hidup yang baik, di situlah Tuhan akan melawat mereka.
2. Ayat 15. Allah ingin kebaikan kita itu membungkam kepicikan orang-orang yang berpikiran bodoh, yang berusaha untuk menjelek-jelekkan firman Tuhan. Kadang kalau kita selalu berbuat baik itu kelihatan lemah. Saat kita berbuat baik, di situ Allah ingin pakai perbuatan kita, cara hidup kita yang baik sebagai senjata yang ampuh.
Apakah Tuhan paham kelemahan, kemampuan, emosi kita? Paham! Ibrani 13:21 - kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. Secara daging kita sulit untuk melakukan perbuatan baik, tapi Tuhan tidak lepas tangan. Tuhan bekali kita dengan segala yang baik, karena Dia Allah yang bertanggung jawab memberi kekuatan bagi kita untuk berbuat baik.
Amin.

